5 – Duel

20 Oktober 2006

Martin menepati janjinya. 5 menit kemudian dia sudah menunggu di lapangan basket pribadinya. Pakaiannya jelas menunjukkan orang yang akan bermain basket. Ia memakai baju basket favoritnya, baju Nike tanpa-lengan warna perak dan hitam. Ia juga mengenakan celana basket pendek berwarna senada, dan sepasang sepatu basket adidas berwarna hitam.

Salah seorang pembantunya datang sambil membawakan beberapa alat, diantaranya adalah Stopwatch, Kamera Digital, miniDV, Voice Recorder, juga sebuah bola basket Spalding. Di lehernya tergantung sebuah peluit dari besi.

“Tenang aja. Walaupun gue pengecut, gue adalah orang pecinta fairplay. Walaupun ini rumah gue, daerah kekuasaan gue, gue tetep bakal mengutamakan keadilan. Nggak akan gue main curang. Lo siap? Kalau belum nggak apa-apa, rileks aja bro.” ujar Martin sambil sedikit menyeringai. Seringainya terlihat sangat licik.

Gito berpikir. Ia harus menang. Ia harus optimis.

Tenang. Ada Allah di sisi elo sekarang. Dia nggak akan ngasih cobaan yang melebihi batas kemampuan hambaNya. Apa artinya? Artinya elo pasti bisa ngelewatin tantangan ini. Sebesar apapun pengorbanan elo, elo harus bisa ngelewatin ujian ini demi keluarga elo dan harga diri elo sendiri. sisi baiknya kembali menyemangati Gito.

Thanks. Gue jadi lebih santai sekarang.

“Oke. Ayo kita mulai.”

Mereka berdua berjalan ke lapangan. Terlihat jelas perbedaan antara mereka berdua. Sementara Martin sudah siap tempur lengkap dengan pakaian olahraga dan sepatu lengkap, Gito malah terlihat sangat sederhana. Baju dan celananya jelas tidak cocok untuk berolahraga. Sepatunya juga hanya sepasang CONVERSE sederhana yang biasa ia pakai ke sekolah sehari-hari. Senjatanya hanya satu, Allah dan pertolonganNya yang tanpa henti.

Pembantu Martin memegang bola. Tak lama kemudian ia meniup peluitnya. Bola dilempar. Mereka berdua mulai berebut bola dengan gesit. Skor pertama diraih oleh Martin. Lalu mereka berdua mulai kejar mengejar skor. Pertandingan berlangsung dengan sangat ketat. Sudah sepuluh menit berlalu. Karena ini bukanlah pertandingan resmi, maka Martin yang menciptakan aturannya sendiri. Ia memang anak yang egois dan keras kepala, apalagi bila berada di daerah kekuasaannya. Lomba ini terdiri dari 30 menit pertandingan, terdiri dari dua babak. Mereka terus menerus berebut bola dengan gesit. Akhirnya lima belas menit berlalu sudah. Skor babak pertama dipimpin oleh Martin. Mereka diberi waktu istirahat selama tiga menit.

Waktu istirahat yang singkat itu Martin pergunakan sebaik-baiknya. Ia meminum air mineral dingin yang sudah disediakan di pinggir lapangan. Sementara itu, Gito hanya bisa mengipasi tubuhnya dan menyeka keringatnya dengan handuk, padahal ia sedang haus sekali.

Waktu tiga menit yang diberikan sudah habis. Mereka kembali ke tengah lapangan. Matahari panas membakar. Tetapi mereka masih terus berebut bola. Banyak tembakan-tembakan indah dilakukan. Manuver-manuver gesit dilancarkan. Gairah dan keinginan untuk menang begitu membara. Gito ingin menang karena ia tak ingin berurusan lebih lanjut dengan Martin. Sedangkan Martin ingin menang demi harga diri dan egoismenya.

Setelah menghitung total poin, ternyata Gito memimpin dengan selisih tipis.

Alhamdulillah, ya Allah. ucap Gito perlahan dalam hati.

Martin senang karena babak ini dimenangkan oleh Gito. Tadi ia memang sedikit mengalah. Otak liciknya sudah memikirkan suatu rencana lain. Ia sangat yakin bahwa ia yang akan memenangkan lomba lari. Kondisinya masih prima untuk berlari. Apabila pada tantangan kedua ia menang, skor akan menjadi satu lawan satu. Ia sudah menyiapkan sebuah tantangan ketiga yang pasti akan dimenangkannya. Apalagi, pada tantangan ketiga kondisi fisik Gito sudah sangat lemah. Ia gampang mengalahkan sekaligus mempermainkan Gito.

“Oke bos, elo menang. Tapi jangan harap tantangan berikutnya elo menang lagi.” ujar Martin dingin, sambil menyeka keringat yang bercucuran di dahinya. Mereka beristirahat dulu selama sepuluh menit. Martin sudah berganti kostum kembali. Ia memakai sebuah jaket khusus pelari, sepatu lari Nike, dan iPod hitam menempel di lengannya. Earphone putih yang dicolokkan ke iPod sudah menempel di telinga Martin. Ia siap untuk berlari. Sementara Gito hanya bisa berdo’a. Kondisi tubuh Gito mulai melemah.

“Lokasi pertandingan kita di Boulevardnya komplek ini. Jaraknya 2 kilometer. Tapi jangan harap dengan gue buka pintu pager rumah ini, elo bisa kabur. Komplek ini masih daerah kekuasaan gue. Gak jauh didepan, ada satpam yang siap nangkep elo kalau elo mau kabur.”

Pembantu Martin membuka pagar. Di depan, terhampar Boulevard komplek rumah Martin yang cukup panjang, sekitar 1 km. Mereka berdua akan melalui rute ini bolak balik, sehingga total jarak yang akan ditempuh adalah 2 km. Jalan tersebut memang kosong, tanpa ada satupun mobil yang melintas pada jalan tersebut. Jalan ini juga kering, tidak satupun pepohonan tumbuh di sampingnya. Sementara itu, matahari bersinar sangat terik. Maklum, jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas siang. Udara juga sangat panas. Tidak ada angin yang bertiup. Di langit penampakan awan begitu jarang.

Baik Martin dan Gito mulai mengambil tempatnya masing-masing.

Mereka berdua mulai bersiap. Tak lama kemudian, peluit ditiup.

PRIIIIT

Mereka berdua berlari sekuat tenaga. Pertama-tama Gito memimpin. Mereka terus berlari ditengah cuaca yang sangat panas. Telinga Martin dipenuhi oleh dentuman lagu System of A Down yang amatlah menghentak, menyemangati Martin untuk terus berlari. Ia begitu percaya diri dan bersemangat. Sementara Gito merasakan kelelahan yang luar biasa setelah bermain basket. Dirinya serasa dipaksa bekerja rodi. Tidak ada lagi yang ia pikirkan kecuali Allah. Bahwa Allah akan membantunya. Bahwa Allah akan menolongnya. Ia membayangkan sebuah kemenangan. Ia meniupkan optimisme ke dalam dirinya sendiri. Kakinya semakin berat.

Setelah satu kilometer ditempuh dalam waktu yang cukup cepat, mereka berdua mulai berbalik arah. Martin sudah memimpin jauh. Satu kilometer lagi masih harus mereka tempuh. Musik heavy-metal terus berdentum di telinga Martin. Yang ia pikirkan adalah menang. Ia harus menang demi harga dirinya. Demi kebanggaannya. Martin begitu percaya diri, apalagi saat ia melihat Gito masih jauh dibelakangnya.

Sementara Gito masih merasakan kehampaan. Keringat mengucur begitu deras dari dahinya, sehingga menetes ke matanya. Matanya terasa perih dan seperti buta mendadak. Yang ia lihat adalah putih. Ia tidak mau memikirkan apapun lagi. Menang atau kalah tidak ia pikirkan. Yang penting ia harus berlari sekuat tenanga. Nama Allah terus ia ucapkan dalam hatinya. Do’a tak henti terucap.

Nafas mereka memburu. Tenaga mereka terkuras habis. Keringat sudah membasahi sekujur tubuh mereka berdua. Udara panas dan kering memperburuk kondisi mereka. Gito tak tahu, apakah ia sanggup untuk menyelesaikan tantangan ini. Jarak yang harus mereka tempuh masih cukup jauh. Gito pasrah sambil berdo’a. Mereka berdua terus berlari dan berlari sekuat tenaga.

Allahuma yasir walaa tua’sir. Ya Allah, mudahkanlah. Berilah hambamu kekuatan sedikit lagi. Hanya Engkaulah penguasa semua hambaNya. ucap Gito lirih.

Lalu Gito berlari. Sekuat mungkin. Secepat mungkin. Ia memejamkan matanya. Yang ia lihat hanyalah cahaya putih. Ia berlari. Ia terus berlari hingga ia merasa seperti terbang. Langkahnya semakin berat namun kecepatan larinya semakin bertambah. Ia tidak mau memikirkan sejauh mana selisih jaraknya dengan Martin. Otaknya hanya memerintahkan dirinya untuk berlari. Ia sudah memastikan didepannya tidak ada halangan lagi. Ia terus berlari sambil memejamkan mata. Seolah didorong oleh sebuah kekuatan yang tak dapat ia jelaskan secara logis, kecepatannya terus bertambah dan bertambah.

Sementara itu, didalam pikiran Martin, tantangan ini cukup mudah. Hanya berlari cepat hingga ke garis finish. Ia tidak mempedulikan keadaan sekitarnya. Ia hanya mempedulikan selisih jaraknya dengan Gito. Matanya yang buram karena kemasukkan keringat juga ia hiraukan saja, padahal pandangannya semakin buram. Di telinganya masih berdentum lagu-lagu keras untuk menyemangatinya berlari. Sampai ia menemukan aspal yang tak rata, didepannya.

Mata Gito sudah tak terasa perih lagi. Ia membuka matanya lebar-lebar. Lalu ia melihat pemandangan yang tak ia sangka akan terjadi.

Martin jatuh.

“AAAAAAAAARGGHHHHH!” jerit Martin. Tubuhnya terbanting dengan keras ke aspal yang sangat panas. Temapt pendaratannya tidak rata dan berbatu. Malangnya, wajahnya terjatuh terlebih dahulu. Posisi jatuhnya sedikit mengerikan. Ia melihat ada sedikit cairan merah. Martin berdarah. Artinya ia mengalami luka serius. Pembantu Martin yang berada diujung sana sedang tidak melihatnya kesakitan.

Kini Gito bimbang. Garis finish tinggal sedikit lagi. Ternyata ada sesuatu yang buruk terjadi. Ia merasakan déja vu. Akhirnya ia ingat. Sebuah adengan dari film Cars yang baru-baru ini ia tonton, berkelebat di benaknya. Dalam adegan itu, musuh Lightning McQueen, The King, tertabrak Chick Hicks. Lalu McQueen berhenti untuk membantu dan mendorongnya. Ia masih berpikir, apakah ia akan berhenti untuk menolong Martin, atau meneruskan larinya hingga ia tiba di garis finish?

Sifat egoisnya muncul kembali. Ternyata ia mementingkan garis finish. Yang penting, gue menang dulu, ujarnya pada diri sendiri. Akhirnya garis finish yang ia tunggu-tunggu telah dekat sekali. Ia berlari. Dan setelah ia menginjak garis putih tanda finish, ia terjatuh. Lemas.

“P…p..pak. P….P….PAK! M…MARTIN J…J…ATUH!” teriak Gito. Ia terengah-engah. Nafasnya habis. Keningnya terasa panas. Keringat mengucur di seluruh bagian tubuhnya. Ia bisa-bisa terserang dehidrasi.

Pembantu Martin berlari sambil membawa bala bantuan. Martin masih berteriak mengerang. Kelihatannya lukanya sangat serius.

GITO! ELO INI CIKEN! PENGECUT! KATANYA ELO MAU JADI ORANG SALEH, HAH? SEKARANG, NOLONGIN ORANG KESUSAHAN AJA NGGAK MAU. GIMANA SIH ELO! kali ini sisi baiknya sendiri membentaknya.

Eh, ngapain juga gue nolongin orang jahat kayak dia. CUMA KARENA TANTANGAN GO*LOKNYA DIA GUE MAU PANAS-PANAS DISURUH LARI GILA-GILAAN GINI! EMANGNYA ENAK? kali ini bathin Gito emosi. Tapi ia teringat kisah Rasul. Rasul sering dilempar kotoran oleh pembencinya, tapi pada saat pembencinya sakit, beliau menyempatkan diri untuk menengoknya. Ia langsung bangkit. Ia buang seluruh rasa lelah dan hausnya. Ia berlari menghampiri Martin.

“Martin, elo gak apa-apa?”

4 – Tantangan

19 Oktober 2006

“Oke, gue dah selesai. Elo mau ngasih gue apaan?”

“Ikut gue”

Gito mengikuti Martin ke sebuah tempat. Kelihatannya tempat itu seperti sebah ruang kerja yang rahasia. Ruangannya gelap, diisi oleh sebuah PC dan meja yang ditutupi sesuatu. Martin menarik selembar kain yang menutupi meja tersebut, sambil sekaligus menyalakan lampu ruangan itu. Seketika Gito melihat suatu gambar. Kelihatannya seperti sebuah logo. Petunjuk pengaplikasian logo tersebut pada bebagai media tertera di berbagai penjuru kertas berukuran besar itu. Awal mulanya ia tidak mencurigai sesuatu, sampai ia membaca judul yang tertera di atas gambar tersebut.

“Loh, Logo dan Nama Resmi Pentas Seni SMPN 6 2007? Hexagon?”

Martinus hanya diam sambil tersenyum licik.

Gito memandangi lagi kertas tersebut lekat-lekat. Ia sejujurnya memang merasa kagum. Konsep Logo dan Nama Pensi yang ini jauh lebih matang daripada yang diajukannya. Ia masih memandang hingga menemukan sesuatu. Itu adalah sebuah tulisan.

Telah menyetujui. Pembina OSIS, tanda tangan. Ketua OSIS dan Pengurus, tanda tangan. Kepala Sekolah, tanda tangan.

“Jadi ini logo resmi Pensi kita?”

Martin hanya mengangguk sambil terus tersenyum licik.

“Terus ngapain elo susah-susah ngundang gue kesini?” tanya Gito. Nadanya mulai meninggi.

“Gue disini mau nantang elo. Mau nguji elo.” jawab Martin kalem.

“Nantang? Nguji? Maksud lo?” tanya Gito emosi.

GITO! Kontrol emosi kamu! Ikutin dulu apa maunya dia, jangan keburu emosi. Ingat Allah! bentak sisi baik Gito.

“Ya, elo tau sendiri kan? Dari pertama kali gue ketemu elo di sekolah kita yang hina itu, gue udah gak suka ama elo! Abis itu, mulai deh elo belagak. Sok-sok jadi anak terpinter lah, terajin lah, teralim lah. Pantes banyak yang nempel sama elo. Belom lagi elo ikut-ikutan ekskul orang. Udah tenang sana lo ngurusin Mesjid, di DKM. Eh, malah ngeganggu kesenengan orang, ikut-ikutan Tim Basket segala. Dipilih jadi kapten pula! Terus elo kerjaannya ngelobi OSIS melulu, sampe seolah ELO yang jadi ketua OSISnya. Lo pikir lo siapa, hah? Asal tau aja ya, SELURUH KEKAYAAN KELUARGA ELO, KALAU DIJUAL SEMUA JUGA NGGAK AKAN CUKUP BUAT NGEBELI BAJU YANG SEHARI-HARI GUE PAKE!”

Dihina seperti itu Gito emosi setengah mati. Tapi ia berusaha mengontrol emosinya. Ia diam, karena menurut para orang bijak, diam itu emas.

“Gue ngundang elo pagi-pagi buta itu sengaja, asal lo tau. Gue sengaja makan didepan elo padahal gue tau elo puasa. Gue sengaja mancing elo. Kejebak gak lo di perangkap gue. Asalnya Gue mau ngebongkar aib elo di depan publik. DI DEPAN RAIA! Gue sengaja dah pasang hidden-cam supaya pas elo makan, gue bisa ambil video elo. Gue juga ngerekam semua pembicaraan kita dari awal. Tapi oke, ternyata elo nggak mau. Elo memilih jalan yang menurut gue lebih susah. Sekarang gue punya tawaran buat elo….”

“Apa?” tanya Gito. Nada suaranya sangat datar.

“Gue mau ngajak elo bertanding.” jawab Martin.

“Fisik?”

“Ya. Lari dan Basket.”

“Pengecut lo. Bulan Puasa gini?”

“Ya, emang gue pengecut. Tapi satu-satunya cara gue bisa numbangin elo, ya karena sekarang bulan puasa. Lo siap? Kalo iya kita mulai 5 menit lagi.”

Gito berpikir. Sifat lamanya kambuh kembali. Ia tidak ingin terkalahkan oleh seorang pengecut seperti Martin. Tapi ia sadar ia sedang shaum. Kondisi fisiknya masih kalah jauh dibanding kondisi Martin yang prima. Belum lagi, ia juga belum mengetahui apa hukuman untuknya jika ia kalah. Ia sadar seratus persen bahwa Martin adalah tipe anak yang menyukai permainan seperti ini. Every friggin’ little things must have its own rewards. Jadi ia belum dapat memutuskan.

“Gue pengen tau sesuatu dulu,” ujar Gito. “Kalau gue menang, gue bakal dapet apa? Dan kalau sampe gue kalah, apa yang bakal elo lakuin ke gue?” tanya Gito santai. Ia berusaha mengontrol emosinya yang sedang naik turun.

“Ternyata elo emang tipe orang teliti, dan nggak keburu-buru. Gue salut sama elo. Oke, gue kasih tau deh. Kalau sampe elo menang, logo cupu yang tadi elo bikin bakal gue jadiin primary themenya pensi kita. Bagi gue itu urusan gampang. Ya, anggep aja sebagai tanda respek dari gue buat elo. Elo juga boleh pergi dari sini. Kalau elo menang urusan kita beres. Gue nggak akan ganggu elo lagi.”

“Kalau gue kalah?”

“Hahahahaha. Elo harus ngikutin peraturan gue ini. Pertama, logo elo jelas gak akan gue pake. Gue buang aja ke tempat sampah! Hahahahaha. Terus, yang kedua, elo musti ngebatalin puasa elo saat itu juga, sambil direkam kamera video gue. Asal lo tau, kamera video gue masih ngerekam sampai sekarang,” papar Martinus. Ia mengambil sebuah remote, dan di sebuah TV plasma yang dari tadi tidak dapat dilihat Gito, seketika muncul gambar mereka berdua. “Ketiga, elo mesti lari keliling rumah gue sama pushup dan situp 300 kali sebelum elo boleh minum. Keempat, elo musti bilang, dengan volume sekeras mungkin, bahwa elo resmi udah kalah dari gue. Yang satu ini bakal gue rekam di voice recorder, tentunya. Yang terakhir, gue bakal ngancurin reputasi elo. Gue bakalan ngancurin hubungan elo sama Raia.”

Hati Gito begitu sakit. Ia tak pernah dihina serendah ini sebelumnya. Ia diperlakukan bagaikan binatang. Kali ini emosinya sedikit meledak-ledak.

“MARTIN, ELO UDAH GILA! ELO PIKIR GUE INI ANJ**G? SEENAKNYA ELO BIKIN PERATURAN KAYAK GITU! LAGIPULA KALAU GUE NGGAK MAU NURUT EMANG ELO MAU APA?” teriak Gito. Ia benar-benar emosi karena direndahkan oleh Martin. Teriakannya bergema di seluruh ruangan kerja itu.

“Ha! Elo pikir, di rumah gue ini nggak ada penjara bawah tanah? Jangan harap elo bisa Lebaran bareng keluarga elo besok.”

Diteror seperti itu mau tak mau Gito memutar otak. Ternyata anak ini serius. Martinus memang membencinya. Dan ia tahu ia tak mungkin kabur. Di rumahnya sendiri, Martinus memiliki kekuatan yang begitu banyak, sehingga Gito bagaikan berada di dalam penjara. Satu-satunya pilihan adalah bertanding, dan menang. Ia memang kapten basket sekolah, tapi dalam keadaan tidak prima seperti ini, apakah dia akan menang?

Memorinya kembali pada kejadian setahun lalu. Hari itu cerah, dan ia sedang duduk bersama Raia di masjid sekolah. Mereka berdua sedang berbincang-bincang. Tiba-tiba Raia mengajaknya pindah tempat.

“Ke depan yuk!” ajaknya.

Gito mau tak mau harus mengikutinya. Sesampainya di depan, ia duduk di seputar lapangan basket. Ia melihat anak-anak basket sedang berlatih. Raia terus menerus memperhatikan Martinus. Waktu itu, baik Raia maupun Gito belum mengetahui siapa Martinus. Mereka berdua memang sering menghabiskan waktu bersama, hingga kurang bersosialisasi dengan yang lainnya.

“Aku kadang pengen, punya pacar yang jago basket.”

Kalimat yang enteng bagi Raia itu membawa dampak yang besar bagi Gito. Lagi-lagi sifat buruknya kambuh. Ia seketika ingin belajar main basket. Hingga akhirnya pada suatu hari, Gito mendaftarkan diri ke ekstrakurikuler basket disamping ekskul DKM yang sudah ia tekuni selama beberapa waktu. Kejadian itu, tepat satu minggu sebelum pemilihan tim inti sekolah. Dan Gito tak tahu, bahwa sebelum ia masuk, calon terkuat kapten tim basket SMPN 6 adalah Martinus.

Ia otomatis terpilih menjadi tim inti karena skillnya sudah cukup lumayan dibanding yang lainnya. Memang, beberapa minggu sebelumnya ia sudah berlatih main basket mati-matian setiap hari bersama Kang Benny, tetangganya yang jago bermain basket. Tidak ada yang menduga bahwa ternyata Gito juga terpilih menjadi kapten tim basket sekolah. Dan sejak hari itulah, Martin membencinya mati-matian. Tapi baru hari ini, ia mengungkapkannya secara verbal.

Setelah ia berpikir matang, akhirnya ia memutuskan sesuatu. Ia akan menerima tantangan Martinus. Jika niat seseorang sudah bulat, tidak ada yang akan menggoyahkannya.

“Oke Martin, gue siap.”

3 – Martinus

18 Oktober 2006

Gito melangkah kembali keluar dari rumahnya. Kali ini tujuannya adalah rumah salah seorang temannya. Namanya Martinus. Martinus kemarin meminta tolong kepada Gito, agar dibuatkan logo untuk Pentas Seni SMPN 6 di bulan Februari nanti. Maklum saja, Martin memang Wakil Ketua OSIS periode sekarang. Walau begitu, perangainya agak liar. Terkadang ia sering berlaku sompral padahal jabatannya di sekolah cukup tinggi dan peranannya penting. Ia juga seringkali menggunakan kekayaannya dengan cara yang salah. Main game online sampai sore, bertanding biliar, dan hura-hura di mall hingga lupa waktu. Begitulah kehidupannya. Gito sendiri agak membenci anak ini. Tapi karena bayaran yang ditawarkannya cukup besar, Gito mau-mau saja bekerja untuk Martinus.

Tak terasa ia sudah 3 kali berganti angkot. Setelah berjalan sejenak dari gerbang komplek perumahan, pagar rumah Martinus terhampar besar didepan matanya. Memang komplek perumahan tempat Martinus tinggal adalah salah satu komplek termewah di kota Bandung. Ia memencet bell yang tersedia di gerbang depan.

Ding Dong. Ding Dong.

Tak lama kemudian, muncul salah seorang pembantu Martinus.

“Cari siapa dik?” tanyanya.

“Martinusnya ada bu?” Gito balik bertanya.

“Tuan Muda Martin belum bangun. Tapi ada baiknya adik menunggu didalam saja.”

Pembantu Martinus membukakan sedikit pintu agar Gito dapat masuk. Saat dibuka, terlihatah rumah Martinus yang sangat besar. Kontras sekali dengan kondisi rumahnya yang sederhana. Ia diajak ke ruang tamu yang amat sangat megah, komplit dengan berbagai pajangan bergaya Eropa yang kelihatannnya sangat mahal. Pembantu Martinus mempersilahkannya duduk di sebah sofa besar berwarna cokelat.

Mmmm, gaji bokap gue setaun aja nggak akan cukup buat dibeliin asbak ini, pikir Gito sambil memandangi sebuah asbak emas berornamen kuda.

“Mau minum apa dik?” tanya pembantu Martin sopan.

“Terima kasih banyak bu. Tapi saya sedang shaum.”

“Oh, maaf ya dik.”

“Nggak apa-apa kok bu.”

Sesudah setengah jam Gito menunggu, barulah Martinus muncul dari lantai atas. Ia masih mengenakan piyama, yang menurut Gito, 100 kali lebih bagus (dan mahal) dibandingkan baju yang ia kenakan sehari-hari. Mukanya terlihat kusut, tanda baru bangun tidur.

“Hei. Tumben datengnya pagi. Gue ke kamar mandi dulu ya. Abis itu ntar kita desain bareng-bareng. Oh iya, elo tunggu di kamar gue aja. Mau main PS juga boleh kok.” seru Martinus dari atas tangga sambil melakukan sebuah gerakan menunjuk ke atas.

Otomatis Gito beranjak dari kursinya menuju ke kamar Martin. Di lantai atas, ia membuka sebuah pintu yang bertuliskan Martin’s Room. Kamar Martin sangat berbeda dengan kamarnya. Dicat dengan warna abu-abu dan biru muda, kamarnya dilengkapi LCD-TV, PS, dan Home Theatre System pribadi. Di salah satu sudut kamarnya yang berukuran raksasa itu, terdapat 1 set komputer dan juga sebuah meja belajar dari kaca yang indah. Gito memilih untuk duduk di beanbag bermotif polkadot sambil menunggu Martin menyelesaikan mandinya.

“Nah gue dah beres nih, kita mulai aja okeh?” tanya Martinus tanpa basa-basi sambil membuka pintunya.

“Kalau gue sih ayuk aja.” jawab Gito malas-malasan.

“Tuan muda, kata Nyonya besar sarapannya suruh diantar aja ya,” kata pembantu Martin di ambang pintu. Ia masuk sambil membawa nampan perak yang penuh dengan makanan.

“Taroh aja di meja.” suruh Martin dingin.

Nampan tersebut ditaruh di meja belajar Martin oleh pembantunya. Martin langsung menyantap makanan tersebut tanpa basa-basi dahulu pada Gito. Sambil makan, ia memulai pembicaraannya dengan Gito. Ia ingin, Pentas Seni yang akan diadakan tahun depan harus berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Gito cukup memutar otak menghadapi keinginan Martin. Sementara itu, disisi lain perut Gito sudah mulai keroncongan. Tenggorokannya kering. Sebentar-sebentar ia melirik ke arah makanan yang sedang disantap oleh Martin dengan lahap.

Cheese and Beef Croissant, Orange Juice, Susu Manis, Sebatang TOBLERONE, 3 potong melon. Hmm, maruk juga nih anak. Sarapan aja segini banyaknya? rutuk Gito dalam hati. Padahal sejujurnya, ia juga sangat menyantap makanan-makanan tersebut.

Udah, jangan ngiri, dan jangan ngiler juga. Inget! Elo lagi shaum. Artinya elo bukan cuma gak makan sama gak minum doang. Tahan emosi! ujar sisi baik Gito yang selalu menyemangatinya.

Ia berpikir keras. Lama kelamaan pikirannya sedikit kacau. Bau croissant hangat yang berpadu dengan keju mengganggunya. Konsentrasinya mulai pecah.

“Gimana kalau temanya…. Makanan aja!” usul Gito.

Hus, Gito! Elo gimana sih! Jangan mikirin makanan mulu! umpat Gito pada dirinya sendiri.

“Ntar standnya namanya macem-macem, dan didekor macem-macem pula. Misalnya stand orange juice,” Gito menghela nafas sambil memandang orange juice Martin yang dingin menyegarkan. “Ntar kita kasih ornamen gelas-gelas, ada juga yang seolah diisi sama air jeruk gitu deh. Malah lebih bagus lagi, standnya dinamain sesuai dengan makanan atau minuman apa yang dijual sama stand itu.”

Martinus memandang aneh ke arah Gito. Lalu ia memandang makanannya. Begitu terus selama beberapa kali, hingga ia membuat sebuah kesimpulan.

“Elo laper?” tanya Martinus tapa basa-basi.

“N..n….ng…nggak kok!” bantah Gito sambil terbata-bata.

Hore, sukses! pekik Martinus girang di dalam hatinya.

“Shit! Gue baru inget! Elo puasa ya?” tanya Martin berpura-pura.

“YA IYA LAH! Emang napa kalo gue puasa?” Gito balik bertanya.

“Yaa, tau gitu elo gak gue undang pagi-pagi begini. Tapi udah deh, sebagai permohonan maaf gue nih, gimana kalo elo juga gue bikinin sarapan kayak begini satu lagi. Elo batalin aja puasa lo. Ntar jangan ngomong kalo elo dah batal. Simpen aja jadi rahasia kita berdua.” kata Gito menawarkan.

“Mau gak lo?” ia bertanya lagi tanda meyakinkan.

Kalo rencana yang satu ini sukses, mati lo Git. pikir Martin dalam hati.

Sementara itu, emosi berkecamuk di batin Gito. Dari pertama kali, Gito tahu bahwa Martin tidak shaum. Ia juga sebenarnya tidak mengaharpkan dihormati oleh Martinus sebagai seorang yang sedang shaum. Ia tidak berharap Martin sengaja tidak makan, atau setidaknya makan secara sembuinyi-sembunyi, jika berada di depan Gito. Tapi ia juga tidak mau dibeginikan. Mungkin, jika ia tidak berikrar pada dirinya sendiri, untuk selalu mengaharap ridha Allah dalam setiap kegiatannya, ia akan lagsung menyambut tawaran Martin untuk membatalkan puasanya dengan senang hati. Apalagi kondisinya sedang lapar dan haus begini. Tapi kali ini tidak. Ia harus menguatkan iman. Ia tidak cuma ingin dipuja dan dipuji oleh manusia, tapi ia sedang mengharap ridhaNya.

“Oke. Diem gue anggep iya. Gue panggil dulu y—“

“JANGAN! Nggak usah ngerepotin, makasih. Lanjutin aja proyeknya deh.”

Sial, dia nggak mau! Terpaksa Plan B. rutuk Martin.

“Oke. Fine. Ayo kita lanjut. Tapi jangan pernah ngajuin ide bodoh kayak ngadain pensi dengan tema makanan, oke? Kita mau ngadain pentas seni SMP, bukan Pameran Tata Boga.” bentak Martin dengan sedikit kasar.

Setelah itu perbincangan berlangsung dengan alot selama hampir setengah jam. Gito mengajukan ide mulai dari Anime Jepang hingga tema Taman Bunga. Mulai dari tema yang Girly sampai yang Boyish. Semua tema diajukan hingga mereka sempat terdiam sesaat. Cukup lama mereka berada dalam keadaan diam, dengan kepala dipenuhi ide. Sebenarnya, saat itu Martinus juga sedang memikirkan sesuatu tentang Gito, sampai pada akhirnya Gito mengajukan sebuah usul.

“Gimana…. kalau temanya warna?” usul Gito.

“Maksud lo?”

“Yaa, jadi Unity in Colors gitu deh. Pokoknya agak Rainbow-minded, but we keep it simple, clean, and minimalist.”

“Bole juga tuh! Nama pensinya apa?” tanya Martin tertarik. Kata-katanya yang satu ini dapat dipastikan 68% palsu. Sejujurnya ia sangat tidak antusias.

“Simpel aja. COLORS. Tapi di logonya, kita bikin angka enam di belakang yang warnanya semi-transparan gitu. Jadi orang nyebutnya bisa COLORS bisa juga 6COLORS atau enam warna. Selain kita berasal dari SMPN 6, warna yang bakal kita pasang juga ada enam. Merah di huruf C, Kuning di huruf O, Hijau di huruf L, Biru di O lagi, Ungu di huruf R, sama Shocking Pink di huruf terakhir yaitu S. Keren kan?” tanya Gito meminta pendapat.

“Sumpah, keren banget. Langsung aja deh kita bikin logonya.” ujar Martin lagi. Pujiannya yang kali ini juga sama palsunya.

Dua puluh menit kemudian, sketsa logo tersebut sudah muncul di atas selembar kertas putih. Martinus akan menunjukkannya dahulu kepada seluruh pengurus OSIS. Apabila mereka semua setuju atas logo dan konsep Gito, logo tersebut kan dibawa ke percetakan untuk mulai di-print menjadi teaser poster, dan lain-lain. Setelah pensi selesai, barulah Gito menerima gajinya. Ia merasa senang karena telah menyelesaikan tugasnya dengan baik, walaupun cukup menguras pikiran dan energinya. Tapi apa yang dirasakan Martinus berbeda. Ia sedang merencanakan sesuatu yang licik.

“Gue ke kamar mandi dulu ya.” ujar Gito meminta izin.

“Oke. Tapi abis ini gue ada sesuatu buat elo.”

Gito hanya terdiam dan tidak menanggapinya dengan serius.

2 – Berubah

17 Oktober 2006

Iya, mulai malem ini, gue HARUS berubah! ujarnya pada diri sendiri.

Tak terasa pintu rumahnya sudah berada di depan mata. Gito membukanya perlahan.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Rumahnya nampak sedikit sepi, kecuali suara televisi yang menyala. Ibunya sedang sibuk membaca sebuah buku resep Lebaran, sementara adiknya Salsabila masih sibuk menonton sinetron favoritnya.

Daripada gue males-malesan entar keburu nongkrong di depan komputer, mendingan sekarang aja gue mulai baca Qur’annya. kata Gito dalam hati.

Al-Qur’an miliknya bersampul hijau muda cerah. Ia menaruhnya di tempat yang paling strategis, yaitu di meja belajarnya. Baru saja ia membuka Al-Qur’an itu, Ibunya datang menghampirinya.

“Wah, kakak rajin banget! Baru juga dateng Tarawih langsung baca Qur’an. Nggak salah Mamah ngedidik kamu,” puji Ibunya.

“Ah, nggak juga kok mah. Ini sih karena malam terakhir aja, sekalian mau ngekhatamin. Tanggung udah Juz 29” sangkal Gito secara halus.

“Tuh, Bil, kamu harus contoh kakak kamu!” nasihat Ibu pada Salsabila sambil setengah berteriak.

“Iya mah. Entar ya, abis beres Kembang Surga.” ujar Sabila santai dengan suara yang sama kerasnya.

“Kamu gimana sih! Orang pada baca Qur’an kamu malah nonton sinetron!” bentak Ibu.

“Iya deh, iya.” ujar Bila malas-malasan sambil beranjak pergi.

“Ya udah Git, sana kamu terusin baca Qur’annya. Maaf mamah udah ngeganggu. Tadinya sih ada yang mau mamah omongin sama kamu. Tapi ya udah, sok atuh khatamin dulu.”

“Oke mah. Besok pagi aja ya pas sahur ngomonginnya.”

Lalu Gito membuka halaman yang terakhir ia baca. Halaman itu ia tandai dengan sebuah pembatas Qur’an. Hari ini bacaannya menginjak surat An-Naba’, juz ke-30.

Eh, ada baiknya hari ini elo baca pake artinya. saran sisi baik Gito.

Iya juga, biar gue bisa lebih ngedalemin ilmu gue. kata Gito dalam hati.

“Mah, pinjem Qur’an Mamah yang pake tafsir ya.” ujar Gito meminta izin.

“Sok, pake aja. Mamah lagi nggak make kok.” balas ibunya.

Perlahan ia membuka Al-Qur’an tersebut. Berbeda dengan miliknya, Al-Qur’an milik ibunya sangat indah dan masih tergolong baru. Bersampul kulit warna cokelat muda, Al-Qur’an ini berisikan Tafsir singkat disamping ayat suci seperti biasanya. Satu hal yang dia suka dari Al-Qur’an ini adalah, baunya harum. Seolah menawarkan bau Surga dari pintunya yang terbuka, bagi setiap ummat yang membaca dan mengerti arti dari setiap ayatnya.

Ia membuka halaman demi halaman, ayat demi ayat. Sehabis membaca sebuah ayat, ia membaca artinya. Ia begitu mendalami apa yang kalam itu katakan dan perintahkan. Ia tak mau seperti dulu lagi. Ia tak mau menjadi manusia hampa.

Apa gunanya bisa membaca dan sudah khatam Qur’an jika mengerti saja belum? pikirnya.

Tanpa terasa ayat demi ayat telah ia telaah. Tanpa terasa pula pipinya basah. Basah oleh air mata. Perasaan malu Gito, dicampur dengan perasaan takut dan hina, menghasilkan sebuah isak tangis. Tanda dari sebuah pengakuan dosa. Terutama jika Gito membaca ayat-ayat tentang hari akhir dan penyiksaan di alam mendatang. Tangisnya semakin deras dan tak terbendung. Ia mengaku bersalah. Ia mengaku telah menyia-nyiakan Ramadhannya. Hati kecilnya terus menerus meneriakkan istighfar. Sesekali Gito berhenti membaca untuk minum dan menyeka air mata, karena ia juga tak mau ketahuan menangis oleh ayah, ibu, atau adiknya sendiri.

Tak terasa bacaannya mencapai surat An-Naas. Itu tandanya bahwa ia sudah mengkhatamkan Qur’an untuk kedua kalinya. Ia mengucap syukur Alhamdulillah sambil bersujud. Lalu ia baca doa Khatam beserta artinya. Setelah itu Gito tidak berhenti hingga disitu saja. Ia duduk, menengadahkan kedua tangannya untuk berdo’a. Do’a permohonan maaf yang tulus. Di malam terakhir ini ia harus melangkah maju. Ia ingin bertaubat. Lisan Gito mulai dipenuhi oleh suara do’a yang lirih diselingi isakan.

“Ya Allah, hambaMu ini ingin sekali mendapat ridhaMu. AmpunanMu. RahmatMu. BerkahMu. Hamba merasa malu karena dulu apa yang hamba inginkan hanyalah kepuasan dunia semata. Hamba menyebut namamu tanpa hamba mengingatmu. Hamba bilang hamba beriman padahal iman hamba hanyalah palsu. Hamba tahu Engkau ada tapi tak pernah hamba takut padaMu. Apa yang hamba inginkan adalah gelimang kebahagiaan semu. Hamba tak tahu lagi harus berjalan ke mana. Tapi baru saja hamba tahu dimana harus bermuara. Pelabuhan itu hanyalah diriMu semata. Cinta tulus hamba hanya pantas untukMu saja. Ya Rabbana maafkanlah dosa-dosa hamba yang tak terkira. Ya Allah semua hal yang kulakukan tulus hanya untukMu. Ya Allah dengan ini aku mengharap ridhaMu dalam setiap langkahku. Semoga Engkau rela mencurahkannya untukku. Amiin”

Walau pipi Gito basah oleh air mata, tapi ia merasa bahagia. Bahkan ia belum pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Ia berjanji, mulai malam ini ia akan berubah. Ia harus berubah.

****

“Bapak… Ibu…. IMSAAAK!”

Nguuuiiiing. Suara sirine berputar-putar di kepala Gito. Ia bukan termasuk anak yang biasa tidur malam. Semalam, ia tidur terlalu larut.

Jam berapa ini? tanyanya dalam hati.

Ia bangun dan melihat jam menunjukkan pukul 03.57

Subhanallah, udah imsak! Mampus gue! rutuknya dalam hati.

“Mamah, mamah, mana makanannya? Udah imsak mah.” teriak Gito.

Seketika ibunya keluar. “Ya Allah, mamah ketiduran!” jerit Ibunya spontan.

“Git, kamu makan seadanya aja ya!” kata Ibu Gito.

“Loh mah, emang yang lain nggak makan?” tanya Gito setengah kaget bercampur kesal.

“Iya, masa kamu lupa? Papah kan ikutan sahur bersama di masjid. Mamah sama Bila lagi berhalangan, jadi kamu makan sendirian. Semalem mamah lupa nyetel jam weker. Abisnya, pikiran mamah kan mamah nggak sahur. Maaf ya Git.”

Tanpa basa-basi ia melihat sekelilingnya. Hanya tersisa kue untuk lebaran esok dan air putih. Cepat-cepat ia makan kue itu. Daripada nggak makan apapun, pikirnya. Lalu ia habiskan air putih yang tersisa. Tak lama berselang, adzan subuh sudah berkumandang. Gito berjalan dengan langkah gontai menuju masjid, dengan keadaan perut masih lapar.

Elo harus kuat, ini hari terakhir elo puasa! Inget janji elo kemaren! Cobaan kecil kayak gini nggak boleh bikin iman elo goyah! ujar sisi baik Gito menyemangati.

Ia tahu hari ini pasti akan menjadi harinya yang terberat.

Gito pulang dari Masjid dalam keadaan haus dan lapar. Padahal, waktu baru menunjukkan pukul setengah enam pagi. Ia memiliki acara selanjutnya yang harus dikerjakan, antara lain pergi ke rumah temannya untuk mengerjakan sebuah tugas penting, dan beberapa kegiatan lainnya. Ia bergegas mandi karena takut terlambat berangkat. Temannya menunggu pukul setengah delapan pagi, sementara rumahnya cukup jauh dari rumah temannya.

“Mah, Gito berangkat duluan ya. Mau ke rumah Martinus,”

“Oh iya Git! Tunggu sebentar! Jadi gini….”

“Kenapa mah? Yang kemaren mau diomongin itu ya?”

“Iya. Mamah teh lupa banget buat beli sesuatu. Barangnya sederhana aja, tapi belinya agak repot sih. Yang pertama mamah mau dibeliin Brownies buat besok. Sekalian sama kue, pengganti yang tadi subuh kamu makan. Belinya di Prima Rasa aja. Kalau ada waktu sempetin juga buat beli Brownies Kukus, tapi jangan yang di pinggir jalan ya! Bisi udah jamuran!” papar Ibunya pada Gito.

“Insyaallah mah. Ada lagi?”

“Ada. Ini yang paling penting tapi agak ngerepotin. Mamah kemaren lupa nitip sama papah buat ngambil baju mamah sama Bila yang ada di penjahit. Penjahitnya ada di Pasar Baru. Tapi agak ujung sedikit. Namanya teh Annida Tailor. Tapi biasanya pasti rame, jadi kamu harus dateng agak siang. Jam 2-an lah. Kalau uangnya masih sisa, beliin permen sama sirup di supermarket ya. Ini mamah kasih 500 ribu. Awas ilang ya. Daftar belanjaan sama estimasi harganya ada disini.”

“Ya udah atuh mah, Gito mungkin pulang agak sore kalau gitu. Duluan ya mah, takut telat ketemu Martinusnya!”

“Hati-hati di jalan ya. Jangan lupa belanjaannya ya.”

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

1 – Munafik

17 Oktober 2006

Sayup-sayup terdengar suara imam shalat Tarawih di telinga Gito. Tapi, ia tidak dapat berkonsentrasi untuk mendengarkannya pada hari itu. Sesuatu menggangu pikirannya. Berkecamuk dalam hatinya. Mengacaukan konsentrasinya beribadah.

Git, elo ini palsu tau nggak, munafik lo! ujar sisi baik jiwa Gito.

Kenapa? tanya Gito dalam hati, pada sisi baiknya sendiri.

Elo nyadar gak sih? Udah 30 kali elo Shalat Tarawih, dan kali ini adalah yang terakhir! bentak sisi baik.

Loh terus emang napa? tanya Gito lagi, polos.

Elo ngerasain sesuatu gak?

Nggak.

Beneran? sang sisi baik bertanya untuk meyakinkan.

Eh, eh, bentar bentar! Gue tau! Gue ngerasa hampa!

Elo nggak ngerasa dapet manfaat apapun kan?

“Allahu akbar”

Iya ya, 29 hari gue shaum kok rasanya sia-sia ya? tanyanya sendiri dalam hati.

Nyesel kan lo, kalau 29 hari cuma dapet laper ama haus doang? sisi baiknya masih saja terus bertanya pada hati nurani Gito.

YA IYA LAH! jawab Gito.

Maka itu, elo musti berubah! saran sang sisi baik.

B..bb..berubah? Berubah apanya? tanya Gito dengan rasa heran.

Elo harus bisa, buat ngejadiin hari terakhir elo di Ramadhan tahun ini bermakna. Sapa tau aja bos, kita berdua nggak bisa ketemu lagi sama Ramadhan tahun depan!

Gimana caranya?

Ya elo harus melakukan segala sesuatunya ikhlas karena Allah. Bisa gak lo? sang sisi baik malah balik bertanya pada Gito.

Deg. Hatinya tertegun. Ia langsung merenungkan kata-kata bathinnya sendiri. Ia termenung beberapa saat lamanya, sampai pada saat Imam Tarawih mengakhiri Shalat Witir ini. 

“Assalamu’alaikum Warrahmatullah.”

Ia pun menengok ke kiri dan ke kanan. Alhamdulillahirabbilalamin. ujarnya sambil mengusap muka. Lalu setelah ia membaca ‘Doa sesudah Shalat Witir’ yang tercantum di Buku Ramadhannya, ia berdzikir. Dzikir paling murni dan tulus, yang pernah ia lakukan selama 14 tahun kehidupannya. Makin dalam dan khusyu’ ia mengucapkan pujian pada Allah, ia makin terlarut. Ia terbawa kedalam dimensi berbeda, dimana refleksi kehidupannya terlihat dengan jelas. Ia bisa melihat shaumnya yang 29 hari kebelakang, benar-benar terasa sia-sia. Tidak pernah ia merasa sebersalah ini pada Allah dan pada dirinya sendiri. Ia berjanji, besok, ia akan memperbaiki amalannya yang 29 hari kebelakang. Lalu do’a meluncur dari mulutnya dengan penuh ketulusan. Setelah mengucapkan Amiin ya Rabbal Alamin, ia menghampiri Imam Shalat yang terduduk sendirian di depan. Karena hari itu adalah hari terakhir Tarawih, jamaah Tarawih sangatlah sedikit. Apalagi masjid di dekat rumahnya terbilang tidak besar.

“Assalamualaikum Pak Ustadz.” sapanya dengan sopan.

“Waalaikumsalam. Tanda tangan?” tanya Ustadz itu to-the-point.

“Iya. Maaf ya Ustadz, merepotkan.” jawabnya halus sambil menyodorkan Buku Ramdahan dan ballpoint BOXY.

Pak Ustadz yang merasa penasaran, membolak-balik dulu setiap catatan di buku Ramadhan milik Gito. Ia melihat dengan penuh ketakjuban. Setiap halamannya, terisi dengan penuh dan baik. Catatan Ceramahnya tidak ada yang kosong, dan sangatlah rapi. Tulisannya sedikit miring, tapi indah dan mudah dibaca. Shalatnya tidak ada yang bolong. Tadarusnya hari itu mencapai juz ke-29, karena ia selalu menamatkan 1 juz setiap harinya. Infaq Shadaqohnya bersifat rutin. Dan shaumnya selalu tamat selama 29 hari. Dapat dibilang ibadah Ramadhannya sempurna.

“Subhanallah! Selama saya menandatangani Buku Ramadhan anak-anak, 6 tahun kebelakang, bapak belum pernah melihat yang catatannya sebagus ini. Adik jujur kan? Jangan bohong lho, dosa! Kalau memang nggak shalat, tulis aja nggak.” kata Pak Ustadz setengah menasihati.

“Insyaallah pak, catatan ini jujur apa adanya.”

“Alhamdulillah! Semoga saja ya dik, generasi bangsa kita semuanya seperti adik. Rajin, pinter, sopan, tampan pula! Wah, bapak do’akan semoga kedepannya adik selalu sukses, dan beriman pada Allah. Amiin.” seru pak Ustadz sambil menandatangan buku milik Gito.

Dipuji seperti itu, Gito malah merasa malu, bukan gembira. Walau dimulutnya terucap kata “Amiin!” berkali-kali, tetap saja, hatinya merasa malu bukan main.

Apa yang tadi dikatakan oleh sisi baik Gito memang benar.

Ia adalah remaja yang munafik.

****

Muhammmad Gito, adalah seorang siswa SMPN 6 Bandung yang berumur 14 tahun. Ia adalah seorang yang baik menurut lingkungannya. Sopan, ramah, pintar, dan yang pasti religius. Ia tinggal di sebuah keluarga sederhana yang sama-sama religius dan disiplin seperti dirinya. Maka itu ia terdidik menjadi orang yang santun dan baik hati. Tapi baru saja ia sadar, bahwa selama ini ia adalah seorang yang amat sangat munafik. Ya, Gito orang yang tidak jujur. Berkat sifat dan egonyalah, ia tumbuh menjadi anak yang tidak jujur. Ia sebenarnya bukan anak baik-baik seperti yang semua orang lihat. Ia sadar sepenuhnya atas hal itu.

Beberapa sifatnya yang paling menonjol antara lain adalah perfeksionis, egois, dan sombong. Ia ingin segalanya sempurna. Ia ingin dinilai paling baik, paling pintar, paling tampan, dan paling segalanya. Ia ingin sekali menyombongkan mutu dan prestasi dirinya kepada orang lain, karena hanya itulah yang satu-satunya dapat ia banggakan. Maka itu, terkadang ia menghalalkan segala cara untuk menjadi yang paling baik, paling sempurna, dan mendapat perhatian dari orang lain.

Seperti contohnya Ramadhan tahun lalu. Ia malas sekali. Ia hanya bermain Komputer seharian. Ibadah seingatnya saja. Puasa masih setengah-setengah. Buku Ramadhannya? Kosong. Ramadhan, baginya adalah bulan penyiksaan. Ia seringkali (bahkan hampir selalu) minum dan makan diam-diam saat tidak ada orang yang melihatnya. Lalu apa yang terjadi? Saat Ibu dan Ayahnya membagikan uang Lebaran untuk berbelanja keperluan, ia mendapat jatah paling sedikit. Sifat egoisnya muncul tiba-tiba. Ia mengajukan protes.

“Mah, kenapa THR aku paling sedikit? Sama kenapa baju aku dibeli di Matahari, sementara baju adek aja sepotong kecil gitu harganya 3x lipat lagi! Mana belinya di butik muslim eksklusif! Kenapa mah? Mamah kok nggak adil sih?!” protes Gito.

“Gito! Liat adek kamu Salsabila! Walaupun masih 10 tahun kayak gitu, udah ibadahnya rajin puasanya nggak pernah bolong lagi! Lah kamu? Udah gede kayak gini masiiih aja bandel. Kerjaannya tiap hari main Komputer mulu. Makan diem-diem lagi! Emangnya mamah nggak tau apa?” bentak Ibunya.

“J..jj…jadi mamah tau?” tanya Gito ketakutan.

Ibunya hanya pergi sambil berkata, “Tahun ini kamu nggak boleh nginep di Eyang! Jaga rumah!”

Sifat perfeksionis dan egois Gito mulai bereaksi. Ia bersumpah dalam hatinya, bahwa Ramadhan tahun depan, Sabila adiknya yang akan menjaga rumah. Ia harus menjadi lebih baik dari adiknya sendiri. Dan ia pun selalu bersikap baik dan patuh pada kedua orangtuanya semenjak kejadian itu.

Waktu berlalu dengan cepat. Setengah tahun kemudian, Gito merasakan cinta. Ya, ia jatuh hati pada seorang Jilbaber yang bernama Raia. Raia sangat rajin dalam beribadah. Tapi karena sifat Raia yang manja, ia selalu minta dibimbing oleh Gito. Tadarus bersama, dzikir bersama, pacaran dengan cara yang benar. Tapi ia merasa banyak hal dalam dirinya, terutama dari sisi agama, yang masih sangat kurang. Apalagi jika ia membandingkannya dengan Raia. Serasa mendapat cambuk, ia terus berusaha memperbaiki agamanya.

Tapi, semua itu, dia lakukan hanya demi pujian dari orang sekitarnya.

Gito rajin shalat, tapi setiap habis shalat, ia sengaja menggelar sajadahnya dan sarungnya agar kedua orangtuanya bisa melihat dan langsung memberinya pujian. Ia rajin membaca Al-Qur’an tapi ia selalu mengeraskan bacaannya sehingga orang satu rumah tahu jika ia sedang membaca Qur’an. Gito orang yang dermawan, tapi ia tak tulus. Setiap ia menyumbang, ia akan memperlihatkan dam memamerkan nominal uangnya bahkan kadang ia sering berkata, “Maap, duit gue abis, tadi dipake infaq!”

Ia selalu melakukan segalanya demi menjadi sosok yang sempurna.

Ia mampu mengubah dirinya secara total, demi mendapat pujian orang lain.

Begitulah, kehidupannya palsu.

Sebuah Cerita Ramadhan

17 Oktober 2006

Inilah dia. Blog hasil dari sebuah pemikiran. Hasil dari sebuah keinginan untuk menciptakan sebuah karya. Karya yang bisa dinikmati, dan bukan tulisan pribadi.

Selamat datang di Kemenangan

Blog ini berisi salah satu dari tulisan Iyo. Bernafaskan religius, dikemas dalam bentuk sebuah cerita tentang seorang pemuda. Refleksi sifat dan kehidupan banyak orang di masa kini. Kemunafikan, Iri, Kriminalitas, dan masih banyak hal lainnya, yang tertuang pada tulisan serius pertamanya ini.

Ceritanya terlalu panjang jika dijadikan cerpen. Terlalu pendek jika dijadikan novel. Tanggung jika dijadikan novelet. Jadi ia menganggap ceritanya ini sebagai sebuah cerita saja. Yang penting, idenya tersalurkan, dan masih bisa dibaca oleh orang lain.

Selamat menikmati kisah sehari dalam hidup Gito. Sehari yang mengubah hidupnya selama-lamanya.